“Sebuah slogan merupakan kristalisasi dari kebudayaan yang dialami oleh pencetusnya ”
Statemen di atas, juga berlaku untuk 3 slogan yang akan kita bahas pada tulisan kali ini. Sebab, ada sebuah teori intertekstual dalam analisis wacana yang menjelaskan bahwa munculnya sebuah wacana selalu dipengaruhi oleh wacana yang pernah ada sebelumnya. Begitupun juga dengan slogan tri-khidmat, tri-komitmen dan tri-moto yang dijadikan salah satu motivasi di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).
Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang, apa yang dimaksud dengan tri-khidmat, tri-komitmen dan tri-moto itu? Dan apa pengaruhnya bagi PMII? Perlu diketahui terlebih dahulu wacana yang mendahului lahirnya 3 slogan tersebut.
Wacana yang menginspirasi lahirnya 3 slogan PMII
Mengetahui wacana yang menginspirasi 3 slogan PMII, berarti harus mengetahui apa yang menjadi sistem ideologi PMII. Sebab 3 slogan tersebut termasuk salah satu jenis sistem nilai-nilai yang terdapat di PMII. Sebagaimana pembagian konsep kebudayaan dalam sebuah masyarakat yang dikemukakan oleh Kuntjaraningrat sebagai berikut.
Kebudayaan terbagi menjadi tiga wujud, yaitu:
- Wujud kebudayaan sebagai sebuah kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
- Wujud kebudayaan sebagai sebuah kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari masyarakat.
- Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Oleh karena itu, untuk mengetahui ideologi PMII, maka perlu menelusuri tulisan, karangan dan buku-buku karya para warga masyarakat PMII. Untuk itu, penulis perlu sedikit mengulas tentang identitas PMII secara singkat. jika dilihat dari AD dan ART PMII tahun 2003, diketahui bahwa PMII adalah organisasi yang bersifat keagamaan, kemahasiswaaan, kebangsaan, kemasyarakatan independen dan professional, berasaskan Pancasila dan bertujuan untuk membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Dari pengertian tersebut, terdapat beberapa kata kunci yaitu, Muslim, Indonesia, kemasyarakatan, pancasila. Dari keempat kata kunci, dapat diketahui bahwa PMII merupakan salah satu organisasi islam yang menganut faham keislaman yang mendukung pancasila dan peduli terhadap masyarakat. Ciri tersebut, cocok dengan corak organisasi keislaman yang bernama NU. Sebagaimana tulisan mantan ketua PB NU yang juga pernah menjadi presiden RI yang keempat, K.H. Abdurrahman Wahid, sebagai berikut.
“…Pancasila sebagai Ideologi Negara yang berwatak pluralistik, dari berbagai ideologymasyarakat yang berkembang di negeri ini, seperti islam, nasionalisme, sosialisme dan lain-lain. "
Dari kutipan tersebut, terlihat bahwa NU juga mendukung Pancasila sebagai asas Negara dan juga memperhatikan kesatuan Negara Republik Indonesia. Jika diteliti lebih dalam, dapat diketahui bahwa PMII adalah organisasi yang lahir dari rahim NU. Tepatnya pada saat konferensi besar IPNU tanggal 14-17 maret 1960 di kaliurang Yogyakarta dicetuskan suatu keputusan perlunya didirikan suatu organisasi mahasiswa yang terlepas dari IPNU baik secara struktural organisasi maupun administratif. Dan sempat menjadi Badan Otomon NU.
Ada pernyataan menarik dari Gus Dur ketika masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, dalam sebuah sarasehan generasi muda NU, yang berlangsung tanggal 28-29 september di Jakarta. Gus Dur menyarankan sebaiknya PMII dan HMI untuk bergabung menjadi satu anak NU dengan alasan sebagaik berikut :
– PMII dan HMI sama-sama mahasiswa Islam
– PMII dan HMI sama-sama independen
– Sama-sama berasaskan Pancasila
– Sama-sama beranggotakan anak-anak NU
Pernyataan Gus Dur tersebut direspon banyak kalangan salah satunya pernyataan dari Ketua Umum Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah Drs. Istijab. Dari 4 hal yang diutarakan oleh Gus Dur ada hal-hal yang perlu dikoreksi. Memang antara PMII dan HMI banyak memiliki kesamaan, tetapi jika keduanya dikatakan anak NU, itu tidak benar. Apa yang dikatakan Gus Dur itu relatif, karena anak NU yang masuk HMI tidak banyak. Tetapi dapat dikatahan hampir mayoritas anggota PMII merupakan anak NU. Secara historis PMII sejak berdiri seirama dengan NU karena organisasi ini dibentuk untuk mewadahi mahasiswa nahdliyin.
Alasan lain, kedua organisasi mahasiswa itu memiliki komitmen ke-indonesiaan dan ke-Islaman yang berbeda. Dalam hal azas tunggal pancasila, misalnya PMII sejak semula telah menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya azas. Sedangkan HMI, meskipun menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas, penerimaan itu disepakati melalui perdebatan panjang, bahkan sempat menimbulkan kemelut dan perpecahan di tubuh HMI.
Sementara menurut ketua umum HMI Jawa Tengah, Rusdiyanto, SH. Dalam bidang Ke-Islaman, PMII berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah, sedangkan HMI memiliki landasan ke-Islaman yang telah dibakukan menjadi NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang dianggap sebagai konsep teologi HMI.
Persinggungan PMII dengan NU pada proses kelahiran dan pada saat PMII masih menyatakan Dependensi terhadap NU, mengindikasikan bahwa terdapat kesamaan ideologi dan kultur antara PMII dan NU. Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pusat ideologi yang dikembangkan oleh PMII adalah islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal jamaah yang dipelopori oleh Hasan Basri dengan konsep tawassuth, tasamuh, tawazun dan I’tidal. Dan konsep tersebut dikembangkan menjadi tiga bagian yaitu, hablum mina Allah,hablum mina An-Nash, dan hablum mina Al-Alamyang termaktub dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP).
Hubungan 3 Slogan dengan NDP
PMII merupakan organisasi pengkaderan yang memiliki Nilai Dasar Pergerakan yang melandasi tiga wujud kebudayaan yang terdapat di PMII. Namun untuk menjembatani nilai-nilai tersebut, maka sebuah organisasi perlu menerjemahkan NDP menjadi bahasa yang lebih muda dicerna, agar anggota PMII yang sangat plural bisa memahaminya secara penuh. Oleh sebab itu, nilai-nilai di NDP diterjemahkan ke dalam 3 Moto, 3 komitmen dan 3 Khidmat dengan mengemasnya dalam bentuk slogan. Media slogan sangat cocok digunakan untuk meringkas pesan dari nilai-nilai yang terdapat dalam NDP mengingat keberagaman corak anggota PMII yang sangat plural dengan kecerdasan yang berbeda- beda.
Tri-Moto yang terdiri atas 3 kata yaitu, Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh. Pemilihan diksi di sini sangat pas, Karena Moto bisa untuk digunakan secara global dalam kehidupan. Sehingga, dapat digunakan sebagai landasan fikir, ucap dan gerak sehari-hari. Sebagaimana yang tertera dalam kamus besar bahasa Indonesia bahwa “Moto adalah kalimat, frasa, atau kata yang digunakan sebagai semboyan, pedoman atau prinsip.”
Tri-Komitmen yang terdiri atas 3 kata, kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Merupakan sebuah pegangan anggota PMII dalam bertindak dan berbuat secara organisatoris. Karena kata Komitmen jika ditinjau dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah “bentuk kata benda yang berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak.”
Sedangkan Tri-Khidmat, yang tersusun atas 3 kata, Taqwa, intelektual, dan profesional adalah sebuah slogan yang harus diperhatikan seorang kader PMII, khususnya bagi mereka yang mengemban amanat sebagai pengurus ditiap-tiap tataran jenjang kepengurusan PMII. Karena khidmat adalah sebuah pengabdian. Oleh karena itu, pilihan kata untuk mewakili nilai pertama dalam NDP adalah Taqwa. Karena spirit yang terdapat dalam taqwa adalah kepasrahan pada Allah secara penuh. Dan tingkat ketakwaan inilah yang membuat seorang pengurus mampu untuk mengemban amanat PMII, walaupun dalam kondisi tekanan yang berat. Karena dari Taqwa-lah seorang pengurus akan selalu meningkatkan keilmuannya dalam kondisi susah dan senang. Dan karena Taqwa-lah seorang pengurus akan bertindak secara professional dalam kondisi apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar